Situasi ini menambah kecurigaan tentang bagaimana PMI Manggarai Timur mengelola persediaan darah, yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam pelayanan kesehatan. Banyak pihak mempertanyakan apakah pengelolaan stok darah selama ini sudah sesuai prosedur yang berlaku dan apakah laporan-laporan administrasi yang diajukan PMI benar-benar mencerminkan keadaan nyata di lapangan.
Yang semakin memperburuk situasi, PMI Manggarai Timur dipimpin oleh Theresia Wisang, yang merupakan istri dari Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas. Tentu saja, hal ini memunculkan spekulasi dan kecurigaan bahwa ada faktor-faktor politik dan nepotisme yang turut mempengaruhi kinerja PMI. Menariknya, setiap tahun PMI mendapatkan hibah yang cukup fantastis dari APBD, namun pelayanan yang diberikan justru mengecewakan masyarakat.
Isu ini pun semakin menarik perhatian publik, terutama mengingat banyaknya anggaran yang disalurkan untuk PMI setiap tahunnya. Para aktivis dan masyarakat setempat mulai mendesak agar pemerintah daerah dan pihak berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PMI Manggarai Timur, khususnya dalam pengelolaan stok darah dan transparansi dalam prosedur administrasi.
Pihak RSUD Borong juga dilaporkan telah mengajukan keluhan ini ke pihak berwenang, berharap agar masalah ini segera mendapat perhatian serius. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari PMI Manggarai Timur ataupun RSUD Borong terkait masalah ini.***