Ia juga menjelaskan bahwa ketika stok darah kosong, PMI aktif mencari donor pengganti dengan menyebarkan informasi ke berbagai jaringan dan media sosial.
Namun, pernyataan Alfred ini ditentang oleh masyarakat yang merasa PMI kurang aktif dalam membantu pasien mencari pendonor.
PMI Harus Dievaluasi!
Maximilianus Herson Loi, tokoh muda Manggarai Timur, menegaskan bahwa keberadaan PMI seharusnya menjadi solusi bagi keluarga pasien yang membutuhkan darah. Namun, realitas di lapangan justru sebaliknya.
“Seharusnya PMI membantu mencari pendonor, bukan malah membebani keluarga pasien yang sudah dalam kondisi sulit,” katanya.
Menurutnya, PMI seharusnya memiliki sistem yang lebih baik dalam memastikan ketersediaan darah bagi pasien, terutama mereka yang berasal dari pelosok dan tidak memiliki akses luas.
“Kalau alasan PMI karena keterbatasan dana, maka ini harus dikomunikasikan dengan pemerintah daerah dan DPRD. Tidak bisa dibiarkan seperti ini,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa evaluasi mendalam terhadap sistem dan manajemen PMI Manggarai Timur sangat mendesak dilakukan. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin masyarakat lainnya akan mengalami kesulitan serupa di masa mendatang.
Dengan berbagai tekanan yang datang dari masyarakat, kini bola panas ada di tangan DPRD Manggarai Timur. Apakah mereka akan segera membentuk Pansus dan mengusut tuntas permasalahan ini? Ataukah isu ini hanya akan menguap tanpa kejelasan? Publik menanti tindakan nyata demi keadilan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan darah secara transparan dan adil.***